Cerita Memendam Rasa 3 - Kurang Cerita




KurangCerita.ml - Cerita Memendam Rasa 3  ‘Hmmhh… Dadaku terasa sesak. Bagaikan terhimpit dalam ruang hampa, melesat jauh ke angkasa tanpa seorang pun yang dengar dan rasakan apa yang tengah kurasa. Percuma saja bila kuhanya bisa menangis dalam hujan yang seolah mentertawakan tangisku. Lebih baik ku diam tanpa kata, daripada menangis tanpa teman untukku mengadukan isi hati.

Aku hanyalah orang biasa, yang ingin seperti mereka teman temanku pada umumnya. Dibelai, disayang, dimanja, dan dicinta. Hahaha lucu sekali kedengarannya. Hubunganku kini bersamanya justru sebaliknya, aku yang harus lebih bisa memahami suasana, menekan ego dan mengerti dirinya. Mana pernah dimanja, malah aku yang mencoba mengerti apa keinginannya.

Tapi bagiku itu bukan sebuah masalah yang perlu dibahas dalam kehidupan cintaku. Biarkanlah mengalir seperti air. Kali ini mungkin aku hanya tidak bisa tekan perasaanku mengingat mereka, memandangiku seolah diriku tak punya malu.


Usia pacaran kami yang menginjak sembilan bulan kini semakin membuka pikiranku tentang hukum kehidupan yang sebenarnya. Kudapatkan banyak ilmu didalamnya. Senang, girang, susah, resah, amarah, semua telah kupahami dan aku pun mulai terbiasa dengan cemoohan mereka terhadapku.

Kuping ini sudah cukup kebal untuk menahan tawa mereka ditengah kegusaran perasaanku. Tapi. . . masa iya aku harus selalu mengalah? apakah itu berarti aku tak boleh sekali saja memaksakan ego ku?. Sorot mata kedua orang tuanya selalu miris kurasa, perih batinku setiap mengingat tatapan dingin mereka saat memandangiku.

Aku selalu mencoba untuk tergar, dan tak pernah mempermasalahkan kehadiranku kedalam kehidupan abangnya Aku tak mengerti bagaimana hukum cinta yang berlaku. Yang kurasakan, aku sayang pada wanita itu, buktinya aku selalu bisa mengalah untuknya tanpa kutahu pasti alasannya kenapa. Tapi ya… sudahlah. Aku tak mau meratap pilu ditengah gerimis buta ini.’


Awan semakin merapatkan barisan, bergulung gulung dibarengi kilat yang menjilat jilat menutup bencah cahaya yang hitam kala padam. 

Pikirannya kalut tak berpenentuan mengikuti lamunan. Mengenang seluruh sastra cinta keabadian tentang wanita yang kini ia jadikan teman


COOMING SOON FOR CERITA MEMENDAM RASA 4 - KURANG CERITA

LihatTutupKomentar