Cerita Ustad Dan Murid - Kurang Cerita


Di suatu desa, ada sesosok ustad Muda yang baru saja datang dari kairo begitu bersemangat untuk membentuk murid terpelajar dan memiliki disiplin yang tinggi. Pada saat pertama kali bertatap muka, Sang ustad Muda mulai menyampaikan sejumlah ajaran islam.
“Ustad sangat senang dapat membina kalian di sini. Ustad harap, kita semuanya sama-sama mampu menjalankan kewajiban kita sebagai umat islam dengan baik ke depannya. Oleh sebab itu, mulai sekarang tidak boleh ada lagi yang terlambat. Ustad pun tidak ingin mendapati kalian berangkat mengaji dengan hati yang kotor, dan kalian mesti merapikan pakaian serta akhlak. Jangan ada pakian yang kotor karena bersih itu suci. Besok pagi Ustad akan mengecek satu persatu”.
Dikeesokan harinya, Ustad pun hadir pagi pagi sekali. Dia mau mengamati kesungguhan siswanya tersebut mengikuti perintahnya. Anak-anak pun hadir satu per satu dengan tepat waktu, perasaan Ustad pun gembira, “Sungguh hebat murid murid saya”, ucapnya di dalam hati.//
Setibanya ia memasuki ruangan masjid, mata Ustad Muda itu menatap para siswa yang sangat sopan. Lagi-lagi ia senang, karena para murid mematuhi perintahnya. Ia membayangkan betapa nikmatnya mengajari anak-anak yang mau mendengarkan kata-katanya, “Anak-anak hebat” ujarnya.
Lalu pandangan pak Guru berganti ke arah pakaian masing masing muridnya. Ia pun terkejut sebab menemukan siswanya tidak berpakaian bersih. Mukanya menjadi mengesut, terlihat tanda kekesalan yang keluar dari matanya.
“ Para Murid-muridku, kalian menyimak apakata ustad kemari?”
“Iya, Pak” jawab anak-anak secara bersamaan.
“Ustad bilang apa?”
“Ustad bilang kami patut belajar disiplin, hadir dengan tepat waktu. Berpakaian bersih” Jawab para murid-murid.
“Ustad senang kalian sudah menyimak ustad, kalian sudah rapi, hadir tepat waktu. Namun mengapa tidak sekaligus kamu semua berpakian bersih? mengapa kalian menurutinya dengan setengah hati?.”
Diantara salah satu siswa yang berada di bangku paling depan mengacungkan jari telunjuknya seraya bilang “Ustad. Kami semua bersedia dan mau untuk mematuhi ustad, datang tepat waktu, dan berpakaian bersiht.
Akan tetapi kami tidak bisa berpakian bersih. Kami semua merupakan anak-anak petani,sebelum mengaji, kami terbiasa menolong orang tua kami untuk memanen padi dan setelah mengaji kami harus kembali membantu kedua orang tua kami . Seandainya kami berpakaian bersih, maka kami tidak dapat datang tepat waktu.” ustad tersebut kaget, Ucapan yang baru saja ia dengar menyadarkan dirinya mengenai hal baru.
Melakukan profesi sebagai ustad tidaklah sesuatu yang ringan. ustad tidaklah termasuk seorang yang bisa memberikan kewajiban. ustadpula bukanlah file untuk diberikan kepada murid yang harus dikerjakan.
Untuk melaksanakan profesinya, ustad tidak lagi berhadapan dengan barang kosong yang mengisinya dengan sesuka hati. Namun yang dia hadapi merupakan anak manusia yang memiliki perasaan, emosi, perasaan serta pengalaman dunia yang beraneka macam.
Dengan demikian, Ustad hanya untuk menyampaikan tuntutan hidup supaya lebih baik dalam melakukan sesuatu bukan untuk memerintah murid.
Di sinilah perlu kebijakan sesosok ustad, kesanggupan yang dapat menimbang antara melaksanakan tuntunan islam atau mengalah dengan mengamati keadaan yang beragam dan tidak sesuai.
Banyak pengertian yang berganti, pada tempat dan kondisi yang tidak sama. menerapkan paksaan kepada para murid agar berfikir dengan satu pola yang hanya akan mengurung kehidupan mereka. Hal yang padahal berlawanan dengan tuntunan islam. Diharapkan pendidikan agama islam waktu demi waktu menjadi bertambah dan semakin baik.
Tamat.

LihatTutupKomentar